Bagi sebuah program feature TV, kehadiran "presenter" atau "reporter" sangat penting artinya. Mereka dapat membawakan, mengenalkan, mempresentasikan, sebuah tempat, kuliner, atau budaya, dengan narasi yang menarik. Kata-kata dengan kalimat "tutur" yang ringan dan mudah dicerna, akan menarik bagi pemirsa. Presenter, harus dapat menggambarkan apa yang dilihatnya di lapangan, apa yang dirasakanya, atau menceritakan yang dialaminya, dengan narasi singkat dan jelas.
Sebelum lebih jauh kita membahasnya, kita perlu mengetahui apa itu presenter atau reporter feature TV. Presenter merupakan kata dari bahasa Inggris "to present" yang artinya mempresentasikan, menyajikan atau menghadirkan. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak ditemukan kata presenter. Namun ada kata yang berdekatan artinya dengan presenter yaitu "pranatacara". Dalam KBBI online yang dikutip dari "https://kbbi.web.id/pranatacara.html" pranatacara diartikan sebagai: pembawa acara atau pewara.
Sementara itu arti kata repoter yang dikutip dari (https://kbbi.web.id/reporter.html) penyusun laporan atau wartawan. Biasanya untuk kehadiran pembawa acara di lapangan, banyak orang menyebutnya dengan reporter. Sedangkan presenter, diposisikan sebagai pembawa acara bereta di studio TV.
Di beberapa stasiun televisi, presenter atau reporter untuk membawakan acara program feature ada yang menyebutnya sebagai "host". Namun, penulis lebih memilih menggunakan "host" sebagai pembawa acara program "talk show". Host berasal dari bahasa Inggris, yang artinya tuan rumah. Sebagai "tuan rumah" sebuah acara TV, tentunya ada "bintang tamu", teman perbincangan. Host inilah yang memandu acara dan menjaga alur perbincangan sepanjang durasi program berlangsung.
Keberadaan dan kehadiran presenter atau reporter, diperlukan agar program feature tidak terkesan membosankan. Jika hanya melihat visual dan mendengarkan narasi saja, tidak akan semenarik jika ada kehadiran orang yang menyajikannya. Apalagi jika orang itu ikut terlibat langsung dalam sebuah kegiatan, yang jarang dilakukan sehari-hari.
Biasanya, program feature TV yang menghadirkan presenter atau reporter, minim dengan narasi, bahkan ada yang penyajiannya tanpa narasi, jika presenter atau reporternya atraktif. Dengan bahasa tutur yang kuat, partisipatif dengan warga sekitarnya, serta visual yang menarik dan bercerita, maka narasi tak lagi diperlukan. Untuk memperkuat visual dan cerita, maka disertakan grafis-grafis dengan tulisan yang jelas, disertai gambar yang menarik. Tentunya sepanjang tampilan grafis tidak mengganggu visual. Narasi ditambahkan jika dalam proses pascaproduksinya ditemukan informasi yang tidak disampaikan reporter atau tidak dapat diceritakan oleh visual.
Hal terpenting, jika perlu penambahan narasi adalah: pengisian suara atau dubbing. Dubbing sedapat mungkin harus menggunakan suara asli reporter atau presenter yg terlibat dalam produksi feature tersebut. Jika tidak, sebauknya diisi dengan suara yang mirip atau serupa.
Dalam program feature, stasiun TV dengan pemodal kuat, dapat menghadirkan presenter atau reporter berasal dari kalangan artis atau publik figur. Kehadiran mereka bertujuan agar orogram feature stasiun TV-nya banyak diminati orang. Memang ongkos produksinya akan semakin mahal. Namun dengan asumsi banyak ditonton masyarakat, yang berimbas pada banyaknya pengiklan, maka pendapatannya juga akan besar.
Tinggal bagaimana persaingan program-program feature TV ini berjalan. Unsur menarik, kebaruan, unik, dan kehadiran reporter atau presenter yang terkenal, luwes, eye catching, akan menjadi modal yang beharga dalam memenangkan persaingan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar