TEKNIK
MENCARI & MEMILIH KISAH INSPIRATIF
Kata “inspiratif” berasal dari kata dasar “inspirasi”.
Menurut KBBI,”inspirasi” berarti “ilham”. Dari arti kata ini, inspirasi bisa
diartikan sebagai suatu proses yang mendorong manusia untuk berbuat sesuatu. Dorongan
ini berasal dari luar. Dorongan dari luar atau inspirasi ini, bisa menimbulkan
sesuatu yang mendorong dari dalam diri manusia yang disebut dengan motivasi.
Membaca makna arti kata inspiratif tersebut,
memperlihatkan bahwa peristiwa atau hal yang menimbulkan inspirasi (tentunya
secara positif) banyak terjadi di sekitar kita. Sebuah peristiwa atau contoh
yang memberi ilham atau menginspirasi,
tak harus berasal dari sesuatu yang besar. Hal-hal kecil, juga bias menimbulkan
inspirasi bagi kita. Tergantung dari mana dan bagaimana kita memandang sebuah
peristiwa.
Siapa saja yang dapat diangkat kisahnya menjadi sebuah
tulisan yang menginspirasi?. Jawabannya, siapapun orangnya dapat dianggap
menginspirasi, dapat kita tulis kisahnya. Orang-orang ini, bisa sebagai
individu, bisa juga kelompok atau komunitas. Apakah kisah yang menginspirasi
itu hanya berasal dari manusia saja? Jawabannya: tidak. Sebuah peristiwa yang
melibatkan hewan, bisa menjadi sebuah kisah yang menginspirasi.
Lalu, bagaimana sebuah kisah yang menginspirasi, dapat
menjadi bahan dan materi tulisan yang menarik? Menurut hemat penulis, ada dua
hal yang perlu kita perhatikan, saat kita mencari bahan (riset) dan menulis
kisahnya secara menarik, yakni:
1.
Lagi-lagi kita kembali pada teknik dasar mencari dan menulis dalam dunia
jurnalistik, yakni 5W+1H. What (apa
yang dilakukannya sehingga dianggap bisa menginspirasi). Who (siapa yang melakukannya sehingga diuanggap dapat
menginspirasi), When (kapan dia
melakukan tindakan yang dapat menginspirasi, kata “kapan”ini juga dapat
memberikan inspirasi karena mungkin dia melakukan ketika kondisi ekonomi susah,
kondisi sakit, sedih, dll.), Where
(dimana dia melakukannya, bisa jadi dia melakukannya di lokasi yang sulit, atau
lokasi dengan berbagai keterbatasan teknologi, dsb.), Why (mengapa dia melakukan itu atau mengapa yang dilakukannya dapat
dianggap menginspirasi kita) dan terakhir How
(bagaimana dia melakukan tindakan itu sehingga dapat menginspirasi kita).
2.
Hal kedua yang perlu kita perhatikan adalah “isi” dari kisah itu. Dalam dunia jurnalistik, para jurnalis
menyebutnya dengan “nila berita” (news
values). Seberapa besar sebuah peristiwa itu mempunyai nilai sehingga layak
menjadi berita. Nilai berita tersebut di antaranya: Penting (seberapa penting peristiwa itu bagi masyarakat), Aktual (semakin baru peristiwa itu
terjadi, semakin layak menjadi berita), Pengaruh
(seberapa luas pengaruh peristiwa itu bagi masyarakat), Kedekatan (semakin dekat secara geografis, dan psikologis dengan
masyarakat, maka akan semakin layak untuk diberitakan), Ketokohan (berkaitan dengan public figure dari orang yang
diberitakan), Dampak (seberapa
besar, seberapa luas, seberapa lama akibat yang ditimbulkan kepada masyarakat),
Konflik (berkaitan dengan kerusuhan,
ketegangan, perang, dsb), Keunikan
(berkaitan dengan sesuatu yang aneh, di luar kewajaran), Human Interest (berkaitan dengan peristiwa yang menyentuh sisi
kemanusiaan), Seks (ini berkaitan
dengan salah satu kebutuhan dasar fitrah manusia).
Kriteria-kriteria
di atas, dapat menjadi acuan ketika kita sedang meriset. Memang tidak semua
kriteria di atas harus dan wajib ada ketika kita akan mengangkat sesuatu dalam
bentuk tulisan. Kita dapat memilih kriteria mana yang menurut kita mempunyai
nilai lebih untuk diangkat menjadi sebuah tulisan. Yang paling mudah kita pilih
untuk menjadi sebuah tulisan yang inspiratif, adalah human interest. Masyarakat
paling mudah tersentuh sisi kemanusiaannya jika membaca atau melihat sesuatu yang
menimbulkan simpati. Sebagai contoh, wanita separuh baya penjual pecel yang
dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana, anak tukang becak yang lulus
kuliah dengan nilai tertinggi, nenek pemulung yang menghidupi cucu-cucunya,
dsb. Atau figur biasa yang sukses dalam melakukan usaha.
Hal-hal
inspiratif, yang dapat menginspirasi masyarakat, bukan berarti masyarakat lain
akan mengikuti hal yang sama. Misalnya, ada seseorang yang sukses di bidang
pertanian dengan peralatan sederhana, bukan berarti orang lain akan mengikuti
usaha di pertanian tersebut. Mungkin memang ada orang yang melakukan usaha di
bidang yang sama, tetapi ada juga orang yang melihat dari sisi lainnya,
misalnya, keuletannya dalam berusaha, sifat pantang menyerahnya, atau sisi
inovasinya. Paling tidak ada sisi lain dari peristiwa atau narasumber yang
dijadikan bahan berita/ tulisan, yang menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.
Hal-hal
tersebut di atas, sebenarnya banyak terjadi/ terdapat di lingkungan kita. Hal
yang perlu kita lakukan untuk menemukan kisah-kisah inspiratif tersebut adalah
rajin melakukan pengamatan. Di manapun kita berada, kita harus jeli untuk melihat (Baca tulisan sebelumnya
“Bergaya Bak Detektif”di blog benynulis.blogspot.com) . Kadangkala
hal-hal yang biasa, jika kita melakukan pengamatan yang mendalam, akan menemukan
sesuatu yang lebih menarik dan menjadi bahan yang inspiratif.
Jika
kita sudah menemukan sesuatu yang mempunyai nilai untuk diangkat menjadi sebuah
tulisan inspiratif, kita tinggal memilih “angle”atau sudat pandang yang akan
menentukan dari sisi mana kita menulisnya. Angle ini menjadi hal yang penting
dalam sebuah tulisan, karena akan menentukan sebuah laporan atau tulisan itu
menarik atau tidak bagi pembaca. Jika sebuah tulisan tidak menarik, tentunya
tulisan kita tidak akan dibaca orang. Ada kunci sederhana bagi seseorang untuk
menentukan angle yang menarik, yakni rumus 5W+1H. Misalnya, jika yang menarik
adalah sisi orangnya, maka kita tentukan tulisannya dari sisi “who”. Jika sisi
lokasi atau tempat, menjadi yang paling menarik, maka kita gunakan rumus
“where”. Jika kita menemukan, yang paling menarik dan dapat menginspirasi
adalah bagaimana dia melakukan sesuatu, maka kita menggunakan rumus “how”.
Begitu seterusnya. Setelah kita dapat menentukan “angle”yang kita pilih, maka
kita tinggal melakukan pendalaman. Pendalaman ini bias dilakukan dengan cara
pengamatan dan wawancara. Semua harus tercatat dengan detil sampai kita tidak
lagi menemukan hal yang kita inginkan.
Jika
sudah melakukan hal tersebut di atas, maka yang tidak kalah pentingnya adalah
mengimplementasikan dalam bentuk tulisan yang menarik. Bagaimana menulis kisah
inspiratif yang menarik bagi masyarakat? Akan kita bahas dalam tulisan lainnya
di blog benynulis.blogspot.com .