16 Mei 2019

Menulis Peristiwa Kriminal


PENULISAN DAN PELIPUTAN PERISTIWA KRIMINAL
                Meliput dan melaporkan kejadian Kriminal, adalah meliput dan melAporkan “post moment”. Peliputan yang dilakukan adalah peliputan pasca kejadian atau setelah kejadian. Jika peliputan dilakukan saat peristiwa Kriminal terjadi atau sedang berlangsung, itu adalah sebuah “anugerah”. Misalnya, ketika peliput sedang berada di pasar atau jalanan, tiba-tiba ada massa yang sedang mengejar pencuri atau pejambret.  Atau saat sedang di jalanan ada  begal bermotor yang sedang membegal korbannya. Jika seperti ini kejadiannya, maka peliputannya atau pelaporannya, dapat menjadi sebuah laporan eksklusif.
                Namun, umumnya peliputan atau penulisan peristiwa Kriminal, adalah melaporkan sebuah peristiwa yang telah terjadi beberapa saat sebelumnya. Misalnya, baru saja terjadi perampokan sebuah rumah, semalam terjadi pembunuhan di sebuah kebun kelapa sawit, dua jam lalu baru ditemukan sesosok jasad bayi dibuang di pinggir sungai, polisi kemarin berhasil menangkap tersangka pembunuh satu keluarga di Bekasi, dsb.
                Pertanyaan yang muncul adalah: Jika peristiwanya terjadi beberapa saat lalu, apakah masih bisa menarik masyarakat atau pembaca? Jika mengacu pada teori “nilai berita”, maka “nilai kebaruan” jelas terlewati.
                Namun, ada hal yang dapat disiasati peliput atau penulis peristiwa kriminal seperti ini. Pada prinsipnya, untuk menulis peristiwa kriminal, kita bisa melakukan dua hal, yakni pengamatan dan wawancara. Pengamatan bisa dilakukan di lokasi atau tempat kejadian perkara (TKP), lokasi penangkap pelaku, atau lokasi tempat penahanan pelaku. Sedangkan untuk wawancara bisa dilakukan terhadap beberapa nara sumber. Nara sumber atau sumber berita pada peristiwa kriminal biasanya adalah pihak-pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung terhada kejadian kriminal tersebut. Misalnya, korban, tersangka pelaku, petugas kepolisian, dan saksi mata (nara sumber tidak langsung). Hal yang perlu dilakukan saat peliputan adalah mencatat secara detil dari hasil pengamatan maupun wawancara. Jika ada sesuatu yang “mencurigakan”saat pengamatan, maka perlu diperkuat dengan wawancara kepada masyarakat sekitar atau petugas. Kita bisa bertindak seolah “detektif” (lihat tulisan pada blog sebelumnya: pen)
                Saat menulis, pastikan “angle” atau sudut pandang yang menarik bagi pembaca. Sesuatu yang berkaitan dengan sisi kemanuiaan atau humanisme, tentu masih menjadi pilihan terbaik untuk memulai penulisan. Misalnya, bagaimana seorang anak harus kehilangan orang tuanya yang dibunuh perampok, mengapa ada seorang wanita muda yang tega membuang bayinya, jika ada peristiwa pencopetan: dapat ditulis dari sisi pelakunya apalagi jika pelakunya adalah wanita atau anak-anak, dsb.
Satu hal yang  yang perlu dipertimbangkan oleh peliput atau penulis persitiwa kriminal, adalah pertimbangkan efek negatif dari hasil penulisannya. Pertimbangkan efek perasaan “ngeri” dari pembaca. Karena itu, hindari kalimat-kalimat yang bernada “sadis”, hindari penulisan dengan kata-kata sifat. Pertimbangan lain yang perlu dilakukan adalah menghindari efek “meniru”. Jangan sampai laporan atau tulisan kita justru menjadi “ïnspirasi” atau menjadi ide bagi orang lain untuk melakukan hal jahat yang sama.
==== semoga bermanfaat =====

Tidak ada komentar:

Posting Komentar