PENULISAN DAN PELIPUTAN PERISTIWA KRIMINAL
Meliput
dan melaporkan kejadian Kriminal, adalah meliput dan melAporkan “post moment”.
Peliputan yang dilakukan adalah peliputan pasca kejadian atau setelah kejadian.
Jika peliputan dilakukan saat peristiwa Kriminal terjadi atau sedang
berlangsung, itu adalah sebuah “anugerah”. Misalnya, ketika peliput sedang
berada di pasar atau jalanan, tiba-tiba ada massa yang sedang mengejar pencuri
atau pejambret. Atau saat sedang di
jalanan ada begal bermotor yang sedang
membegal korbannya. Jika seperti ini kejadiannya, maka peliputannya atau
pelaporannya, dapat menjadi sebuah laporan eksklusif.
Namun,
umumnya peliputan atau penulisan peristiwa Kriminal, adalah melaporkan sebuah
peristiwa yang telah terjadi beberapa saat sebelumnya. Misalnya, baru saja
terjadi perampokan sebuah rumah, semalam terjadi pembunuhan di sebuah kebun
kelapa sawit, dua jam lalu baru ditemukan sesosok jasad bayi dibuang di pinggir
sungai, polisi kemarin berhasil menangkap tersangka pembunuh satu keluarga di
Bekasi, dsb.
Pertanyaan
yang muncul adalah: Jika peristiwanya terjadi beberapa saat lalu, apakah masih
bisa menarik masyarakat atau pembaca? Jika mengacu pada teori “nilai berita”,
maka “nilai kebaruan” jelas terlewati.
Namun,
ada hal yang dapat disiasati peliput atau penulis peristiwa kriminal seperti
ini. Pada prinsipnya, untuk menulis peristiwa kriminal, kita bisa melakukan dua
hal, yakni pengamatan dan wawancara. Pengamatan bisa dilakukan di lokasi atau
tempat kejadian perkara (TKP), lokasi penangkap pelaku, atau lokasi tempat
penahanan pelaku. Sedangkan untuk wawancara bisa dilakukan terhadap beberapa
nara sumber. Nara sumber atau sumber berita pada peristiwa kriminal biasanya
adalah pihak-pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung
terhada kejadian kriminal tersebut. Misalnya, korban, tersangka pelaku, petugas
kepolisian, dan saksi mata (nara sumber tidak langsung). Hal yang perlu
dilakukan saat peliputan adalah mencatat secara detil dari hasil pengamatan
maupun wawancara. Jika ada sesuatu yang “mencurigakan”saat pengamatan, maka
perlu diperkuat dengan wawancara kepada masyarakat sekitar atau petugas. Kita
bisa bertindak seolah “detektif” (lihat tulisan pada blog sebelumnya: pen)
Saat
menulis, pastikan “angle” atau sudut pandang yang menarik bagi pembaca. Sesuatu
yang berkaitan dengan sisi kemanuiaan atau humanisme, tentu masih menjadi
pilihan terbaik untuk memulai penulisan. Misalnya, bagaimana seorang anak harus
kehilangan orang tuanya yang dibunuh perampok, mengapa ada seorang wanita muda
yang tega membuang bayinya, jika ada peristiwa pencopetan: dapat ditulis dari
sisi pelakunya apalagi jika pelakunya adalah wanita atau anak-anak, dsb.
Satu hal yang yang perlu dipertimbangkan oleh peliput atau
penulis persitiwa kriminal, adalah pertimbangkan efek negatif dari hasil
penulisannya. Pertimbangkan efek perasaan “ngeri” dari pembaca. Karena itu,
hindari kalimat-kalimat yang bernada “sadis”, hindari penulisan dengan kata-kata
sifat. Pertimbangan lain yang perlu dilakukan adalah menghindari efek “meniru”.
Jangan sampai laporan atau tulisan kita justru menjadi “ïnspirasi” atau menjadi
ide bagi orang lain untuk melakukan hal jahat yang sama.
==== semoga
bermanfaat =====