Pengertian Umum Feature
Feature adalah sebuah karya khas jurnalistik, yang tulisannya dibumbui dengan tulisan sastra. Kalau news berkaitan dengan kejadian faktual bernilai kecepatan, maka feature adalah karya yang faktual yang tidak terikat dengan nilai kecepatan. Makanya orang menyebutkan feature lebih banyak membahas sesuatu bernilai human interest, membahas atau menggugah sisi kemanusiaan.
Dalam sebuah program televisi, feature yang menarik diproduksi dengan memperbanyak visual atau gambar. Visual yang menarik, dengan pengambilan visual yang beauty shoot, berbagai ukuran visual, stock shoot yang beragam dan banyak, akan membuat feature televisi semakin menarik. Istilahnya adalah "biarkan visual berbicara". Narasi hanya menjelaskan kata-kata yang tidak bisa direkam dalam visual atau mempertegas kondisi obyek dalam visual. Jadi, ingat carilah visual sebanyak mungkin yang dapat "bercerita" atau yang akan dirangkai untuk "berkisah".
Dokumenter Sosok (Tokoh)
Pembuatan feature, meskipun ringan, tetapi tidak berarti mudah untuk mengerjakannya. Perlu riset, pengumpulan data, dan wawacara nara sumber yang sangat detil dan mendalam. Waktu yang diperlukan, juga cukup lama.
Pengalaman penulis dalam membuat tokoh-tokoh yang mengikuti kegiatan politik, sepert pemilu, adalah sebuah contoh yang faktual. Kita perlu membuka file-file tertulis dari sang tokoh. Ratusan file tertulis, tentang segala hal dari peristiwa besar sampai detil informasi terkecil, perlu kita riset. Riset ini dapat dilakukan melalui internet, buku-buku, perpustakaan, media massa lain, atau prawawancara. Segala hal yang berkaitan dengan "5W+1H" dari sang tokoh, perlu kita tahu. Mulai dari, di mana dan kapan dia lahir, pengalaman sekolah, komentar dari guru dan teman-temannya, tanggapan keluarga terdekat, sepak terjangnya (berkegiatan usaha, sosial, politik) perlu dan penting kita gali dan kumpulkan, jika ingin membuat program feature sosok yang lengkap. Bahkan penulis dan rekan penulis sempat sampai ke pelosok daerah terpencil, untuk mengetahui masa kecil seorang tokoh. Ini untuk menggambarkan suasana nyata daerah lahir sang tokoh, sekaligus suasana terkini di daerah tersebut.
Foto-foto sang tokoh, perlu didapatkan visualnya. Tempat atau lokasi bersejarah yang membawa dampak perkembangan dalam hidup sang tokoh, juga perlu kita datangi. Wawancara dengan keluarga, teman-teman, guru, atau siapapun yang berkaitan dengan sang tokoh, perlu kita lakukan. Yang terakhir kita perlu mendapatkan informasi dan visualisasi kekinian dari sang tokoh. Seperti juga penelusuran masa lalu sang tokoh, kita perlu mendapatkan wawancara sang tokoh, keluarga, teman, atau kolega. Informasi "kecil" jangan diabaikan, karena kadangkala informasi seperti ini menjadikan dokumenter kita lebih menarik dan "berwarna". Rekam dengan jelas, nyata dan detil, visual-visual dan wawancara yang sangat dibutuhkan.
Pengalaman berbeda didapatkan jika
kita membuat atau memproduksi sebuah dokumenter dari tokoh bersejarah yang telah tiada. Selain melakukan proses-proses di atas, kita juga perlu mencari dokumentasi tentang foto dan visual yang akan banyak kita butuhkan. Ada berbagai cara yang dapat kita lakukan, antara lain mencari visual dari dokumentasi internal, serta dengan meminjam atau membeli visual yang kita butuhkan dari media massa lain. Kita juga dapat mencari atau membelinya dari lembaga dokumentasi resmi yang dibentuk pemerintah. Tentunya jangan lupa mencantumkan dari mana sumber visual yang didapatkan ( istilah kerennya courtesy). Pertanyaan yang sering muncul kemudian, "mahal dong?". Untuk membuat sebuah program feature dokumenter tokoh yang lengkap, memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tahapan praproduksi-produksi-pascaproduksi feature dokumentasi tokoh, adalah sebuah proses yang panjang, termasuk waktu, dan perlu biaya. Jika semua sudah terkumpul, dan dirangkai dengan faktual, serta dipadukan dengan visual yang serasi, akan menghasilkan sebuah feature dokumenter yang mengagumkan.
Untuk sebuah prgram dokumenter televisi, hal yang terpenting adalah proses editing. Perlu seorang editor audio visual yang berpengalaman. Selain itu reporter, juru kamera, dan produser perlu mendampingi editor saat proses editing atau pengeditan. Pemilihan audio dan lagu untuk back sound yang tepat, juga akan membuat program dokumenter kita lebih bermakna. Terakhir, sebelum program dokumenter ini tayang, kita perlu check and recheck terlebih dahulu. Lakukan berulang kali, kalau perlu orang lain diajak untuk melihat dahulu produksi kita.
Sebuah catatan:
"Waktu adalah uang". Frasa yang dicetuskan Benjamin Franklin pada 1748, adalah kata bijak yang sangat penting kita ingat. Mumpung kita di daerah yg jauh, di daerah terpencil, sulit dijangkau atau bertemu dengan nara sumber yang sulit ditemui, gali wawancara sebanyak-banyaknya. Gunakan "why" dan "how" dalam menggali wawancara. Cermati, bisa jadi muncul pertanyaan susulan dari pernyataan nara sumber. Ambil visual sebanyak-banyaknya dan sedetil-detilnya.
Ini adalah sebuah karya dokumenter sehingga sangat penting masalah "keakuratan". Jadi jangan sampai, kita asik dengan data dan visual yang dianggap sudah lengkap, kita mengabaikan hal-hal yang dianggap sepele. Jangan salah penulisan dan typo, pada: nama, gelar, tanggal, bulan, tahun, nama tempat, daerah, adat dan budaya setempat, nama makanan, dsb. Teliti kembali di akhir proses pembuatan feature dokumenter kita.
Salam.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar