JURNALISME
INSPIRATIF (#1)
Dalam dunia jurnalistik, ada sebuah “pemeo” lama yang
berbunyi “anjing menggigit orang bukan berita. Orang menggigit anjing baru
berita”. Pemeo, yang bermakna sindiran terhadap sesuatu yang menjadi buah bibir
banyak orang ini, seringkali menjadi pegangan bagi para jurnalis atau wartawan
untuk memberitakan sesuatu. Pemeo ini mengartikan segala peristiwa yang
bermakna “negatif”, menjadi layak dan menarik untuk diberitakan. “Bad news is
good news”. Peristiwa yang buruk (negatif) adalah berita yang menarik. Sebagai
contoh, peristiwa kriminal (pembunuhan, perampokan, begal, dsb.) merupakan
peristiwa yang banyak dicari pembaca (bagi surat kabar, majalah, media sosial),
pendengar (radio), dan pemirsa (televisi, media sosial audio video).
Memang tak salah. Dari berbagai survei, baik, yang
dilakukan perorangan maupun lembaga, berita peristiwa kriminal, banyak dilihat orang.
Berbagai program berita kriminal di televisi, menghasilkan rating dan share
yang tinggi. Sementara, berita-berita kriminal di surat kabar juga menjadi
perhatian pembacanya. Seringkali peristiwa-peristiwa kriminal menjadi “headline”
di media massa. Judul besar dan mencolok, peristiwa kriminal banyak menghiasi
halaman depan surat kabar. Ini membuktikan, bahwa peristiwa kriminal, meski
bagi sebagian orang atau pengamat tak layak atau “menjijikkan” untuk disiarkan,
tetapi tetap menjadi “santapan” masyarakat.
Permasalahannya adalah: Apakah saat ini berita dengan
pemeo seperti di atas masih layak dan wajib di siarkan atau diterbitkan?. Apakah
masih banyak masyarakat sampai saat ini yang menantikan berita-berita
berkonotasi “negatif”? Apakah tidak ada peristiwa yang berkonotasi “positif” yang
layak dan menarik untuk ditayangkan atau diterbitkan di media massa? Dan yang
paling penting, tidak adakah masyarakat yang mau atau ingin melihat atau
membaca peristiwa yang lebih positif dari sekadar peristiwa yang berkonotasi negatif?
Jawabannya ada dua. Dari pertanyaan pertama dan kedua,
jawabannya sama: MASIH. Kenapa masih? Karena peristiwa tersebut sampai kini
masih banyak disiarkan, diterbitkan, atau ditayangkan di media massa dan media sosial.
Lalu, dari pertanyaan ketiga dan keempat, jawabannya adalah: ADA.
Semua jawaban di atas, kini tergantung dari bagaimana
kemauan jurnalis atau masyarakat untuk mengatasinya. Untuk sebuah peristiwa
yang bermakna positif, ini tergantung dari bagaimana jurnalis dan masyarakat
untuk mencari dan mengemasnya secara menarik, agar dapat dan layak tayang atau
terbit di media massa dan media sosial. “Good news is goog news” harus
digaungkan untuk mengedepankan jurnalisme yang saya sebut dengan “Jurnalisme
Inspiratif”. Apakah “Jurnalisme Inspiratif”itu? Simak tulisannya di blog saya
beriktunya. Yang pasti sayang untuk dilewatkan… Dan tentu saja.. cukup
inspiratif bagi pembaca…
===== semoga bermanfaat
======
Tidak ada komentar:
Posting Komentar