9 Agustus 2019

Jurnalisme Inspiratif (#1) "Pengantar"



JURNALISME INSPIRATIF (#1)

            Dalam dunia jurnalistik, ada sebuah “pemeo” lama yang berbunyi “anjing menggigit orang bukan berita. Orang menggigit anjing baru berita”. Pemeo, yang bermakna sindiran terhadap sesuatu yang menjadi buah bibir banyak orang ini, seringkali menjadi pegangan bagi para jurnalis atau wartawan untuk memberitakan sesuatu. Pemeo ini mengartikan segala peristiwa yang bermakna “negatif”, menjadi layak dan menarik untuk diberitakan. “Bad news is good news”. Peristiwa yang buruk (negatif) adalah berita yang menarik.   Sebagai contoh, peristiwa kriminal (pembunuhan, perampokan, begal, dsb.) merupakan peristiwa yang banyak dicari pembaca (bagi surat kabar, majalah, media sosial), pendengar (radio), dan pemirsa (televisi, media sosial audio video).
            Memang tak salah. Dari berbagai survei, baik, yang dilakukan perorangan maupun lembaga, berita peristiwa kriminal, banyak dilihat orang. Berbagai program berita kriminal di televisi, menghasilkan rating dan share yang tinggi. Sementara, berita-berita kriminal di surat kabar juga menjadi perhatian pembacanya. Seringkali peristiwa-peristiwa kriminal menjadi “headline” di media massa. Judul besar dan mencolok, peristiwa kriminal banyak menghiasi halaman depan surat kabar. Ini membuktikan, bahwa peristiwa kriminal, meski bagi sebagian orang atau pengamat tak layak atau “menjijikkan” untuk disiarkan, tetapi tetap menjadi “santapan” masyarakat.
            Permasalahannya adalah: Apakah saat ini berita dengan pemeo seperti di atas masih layak dan wajib di siarkan atau diterbitkan?. Apakah masih banyak masyarakat sampai saat ini yang menantikan berita-berita berkonotasi “negatif”? Apakah tidak ada peristiwa yang berkonotasi “positif” yang layak dan menarik untuk ditayangkan atau diterbitkan di media massa? Dan yang paling penting, tidak adakah masyarakat yang mau atau ingin melihat atau membaca peristiwa yang lebih positif dari sekadar peristiwa yang berkonotasi negatif?
            Jawabannya ada dua. Dari pertanyaan pertama dan kedua, jawabannya sama: MASIH. Kenapa masih? Karena peristiwa tersebut sampai kini masih banyak disiarkan, diterbitkan, atau ditayangkan di media massa dan media sosial. Lalu, dari pertanyaan ketiga dan keempat, jawabannya adalah: ADA.
            Semua jawaban di atas, kini tergantung dari bagaimana kemauan jurnalis atau masyarakat untuk mengatasinya. Untuk sebuah peristiwa yang bermakna positif, ini tergantung dari bagaimana jurnalis dan masyarakat untuk mencari dan mengemasnya secara menarik, agar dapat dan layak tayang atau terbit di media massa dan media sosial. “Good news is goog news” harus digaungkan untuk mengedepankan jurnalisme yang saya sebut dengan “Jurnalisme Inspiratif”. Apakah “Jurnalisme Inspiratif”itu? Simak tulisannya di blog saya beriktunya. Yang pasti sayang untuk dilewatkan… Dan tentu saja.. cukup inspiratif bagi pembaca…

===== semoga bermanfaat ======

Tidak ada komentar:

Posting Komentar