21 Agustus 2019

Jurnalisme Inspiratif (#2) Teknik Mencari & Memilih Kisah Inspiratif


TEKNIK MENCARI & MEMILIH KISAH INSPIRATIF

            Kata “inspiratif” berasal dari kata dasar “inspirasi”. Menurut KBBI,”inspirasi” berarti “ilham”. Dari arti kata ini, inspirasi bisa diartikan sebagai suatu proses yang mendorong manusia untuk berbuat sesuatu. Dorongan ini berasal dari luar. Dorongan dari luar atau inspirasi ini, bisa menimbulkan sesuatu yang mendorong dari dalam diri manusia yang disebut dengan motivasi.
            Membaca makna arti kata inspiratif tersebut, memperlihatkan bahwa peristiwa atau hal yang menimbulkan inspirasi (tentunya secara positif) banyak terjadi di sekitar kita. Sebuah peristiwa atau contoh yang memberi ilham atau  menginspirasi, tak harus berasal dari sesuatu yang besar. Hal-hal kecil, juga bias menimbulkan inspirasi bagi kita. Tergantung dari mana dan bagaimana kita memandang sebuah peristiwa.
            Siapa saja yang dapat diangkat kisahnya menjadi sebuah tulisan yang menginspirasi?. Jawabannya, siapapun orangnya dapat dianggap menginspirasi, dapat kita tulis kisahnya. Orang-orang ini, bisa sebagai individu, bisa juga kelompok atau komunitas. Apakah kisah yang menginspirasi itu hanya berasal dari manusia saja? Jawabannya: tidak. Sebuah peristiwa yang melibatkan hewan, bisa menjadi sebuah kisah yang menginspirasi.
            Lalu, bagaimana sebuah kisah yang menginspirasi, dapat menjadi bahan dan materi tulisan yang menarik? Menurut hemat penulis, ada dua hal yang perlu kita perhatikan, saat kita mencari bahan (riset) dan menulis kisahnya secara menarik, yakni:
1. Lagi-lagi kita kembali pada teknik dasar mencari dan menulis dalam dunia jurnalistik, yakni 5W+1H. What (apa yang dilakukannya sehingga dianggap bisa menginspirasi). Who (siapa yang melakukannya sehingga diuanggap dapat menginspirasi), When (kapan dia melakukan tindakan yang dapat menginspirasi, kata “kapan”ini juga dapat memberikan inspirasi karena mungkin dia melakukan ketika kondisi ekonomi susah, kondisi sakit, sedih, dll.), Where (dimana dia melakukannya, bisa jadi dia melakukannya di lokasi yang sulit, atau lokasi dengan berbagai keterbatasan teknologi, dsb.), Why (mengapa dia melakukan itu atau mengapa yang dilakukannya dapat dianggap menginspirasi kita) dan terakhir How (bagaimana dia melakukan tindakan itu sehingga dapat menginspirasi kita).
2. Hal kedua yang perlu kita perhatikan adalah “isi” dari kisah itu. Dalam dunia jurnalistik, para jurnalis menyebutnya dengan “nila berita” (news values). Seberapa besar sebuah peristiwa itu mempunyai nilai sehingga layak menjadi berita. Nilai berita tersebut di antaranya: Penting (seberapa penting peristiwa itu bagi masyarakat), Aktual (semakin baru peristiwa itu terjadi, semakin layak menjadi berita), Pengaruh (seberapa luas pengaruh peristiwa itu bagi masyarakat), Kedekatan (semakin dekat secara geografis, dan psikologis dengan masyarakat, maka akan semakin layak untuk diberitakan), Ketokohan (berkaitan dengan public figure dari orang yang diberitakan), Dampak (seberapa besar, seberapa luas, seberapa lama akibat yang ditimbulkan kepada masyarakat), Konflik (berkaitan dengan kerusuhan, ketegangan, perang, dsb), Keunikan (berkaitan dengan sesuatu yang aneh, di luar kewajaran), Human Interest (berkaitan dengan peristiwa yang menyentuh sisi kemanusiaan), Seks (ini berkaitan dengan salah satu kebutuhan dasar fitrah manusia).
Kriteria-kriteria di atas, dapat menjadi acuan ketika kita sedang meriset. Memang tidak semua kriteria di atas harus dan wajib ada ketika kita akan mengangkat sesuatu dalam bentuk tulisan. Kita dapat memilih kriteria mana yang menurut kita mempunyai nilai lebih untuk diangkat menjadi sebuah tulisan. Yang paling mudah kita pilih untuk menjadi sebuah tulisan yang inspiratif, adalah human interest. Masyarakat paling mudah tersentuh sisi kemanusiaannya jika membaca atau melihat sesuatu yang menimbulkan simpati. Sebagai contoh, wanita separuh baya penjual pecel yang dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana, anak tukang becak yang lulus kuliah dengan nilai tertinggi, nenek pemulung yang menghidupi cucu-cucunya, dsb. Atau figur biasa yang sukses dalam melakukan usaha.
Hal-hal inspiratif, yang dapat menginspirasi masyarakat, bukan berarti masyarakat lain akan mengikuti hal yang sama. Misalnya, ada seseorang yang sukses di bidang pertanian dengan peralatan sederhana, bukan berarti orang lain akan mengikuti usaha di pertanian tersebut. Mungkin memang ada orang yang melakukan usaha di bidang yang sama, tetapi ada juga orang yang melihat dari sisi lainnya, misalnya, keuletannya dalam berusaha, sifat pantang menyerahnya, atau sisi inovasinya. Paling tidak ada sisi lain dari peristiwa atau narasumber yang dijadikan bahan berita/ tulisan, yang menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.
Hal-hal tersebut di atas, sebenarnya banyak terjadi/ terdapat di lingkungan kita. Hal yang perlu kita lakukan untuk menemukan kisah-kisah inspiratif tersebut adalah rajin melakukan pengamatan. Di manapun kita berada, kita harus  jeli untuk melihat (Baca tulisan sebelumnya “Bergaya Bak Detektif”di blog benynulis.blogspot.com) . Kadangkala hal-hal yang biasa, jika kita melakukan pengamatan yang mendalam, akan menemukan sesuatu yang lebih menarik dan menjadi bahan yang inspiratif.   
Jika kita sudah menemukan sesuatu yang mempunyai nilai untuk diangkat menjadi sebuah tulisan inspiratif, kita tinggal memilih “angle”atau sudat pandang yang akan menentukan dari sisi mana kita menulisnya. Angle ini menjadi hal yang penting dalam sebuah tulisan, karena akan menentukan sebuah laporan atau tulisan itu menarik atau tidak bagi pembaca. Jika sebuah tulisan tidak menarik, tentunya tulisan kita tidak akan dibaca orang. Ada kunci sederhana bagi seseorang untuk menentukan angle yang menarik, yakni rumus 5W+1H. Misalnya, jika yang menarik adalah sisi orangnya, maka kita tentukan tulisannya dari sisi “who”. Jika sisi lokasi atau tempat, menjadi yang paling menarik, maka kita gunakan rumus “where”. Jika kita menemukan, yang paling menarik dan dapat menginspirasi adalah bagaimana dia melakukan sesuatu, maka kita menggunakan rumus “how”. Begitu seterusnya. Setelah kita dapat menentukan “angle”yang kita pilih, maka kita tinggal melakukan pendalaman. Pendalaman ini bias dilakukan dengan cara pengamatan dan wawancara. Semua harus tercatat dengan detil sampai kita tidak lagi menemukan hal yang kita inginkan.
Jika sudah melakukan hal tersebut di atas, maka yang tidak kalah pentingnya adalah mengimplementasikan dalam bentuk tulisan yang menarik. Bagaimana menulis kisah inspiratif yang menarik bagi masyarakat? Akan kita bahas dalam tulisan lainnya di blog benynulis.blogspot.com   .

9 Agustus 2019

TULISAN TANPA HOAKS



MENGHINDARI HOAKS

            Akhir-akhir ini, kita selalu disibukkan dengan kata-kata “hoaks”. Hoaks diartikan sebagai berita bohong atau berita tak bersumber (kbbi.id). Di zaman dengan teknologi yang sangat canggih, apalagi teknologi informasi yang setiap saat selalu berubah dengan cepat, berita atau informasi semakin cepat pula tersebar. Masalahnya, informasi yang tersebar, seringkali hanya memuat sedikit unsur “kebenaran”. Informasi yang diutamakan dalam penyebaran ini adalah “yang penting cepat tersebar”. Unsur kecepatan, bagi sebuah berita, memang salah satu unsur yang diutamakan. Namun, ada unsur lain yang tak boleh terlewatkan, yakni unsur “ketepatan”. Ketepatan di sini adalah informasinya harus tepat, baik data, lokasi, kapan, orang yang terlibat, dsb. (5W + 1H).
            Informasi yang tersebar cepat seringkali sudah mengandung unsur info berantai. Apalagi yang diembel-embeli dengan kalimat “… katanya…”. Kalau sudah begini… info yang tersebar bisa menjadi bias atau samar, atau tak jelas. Belum lagi kemudian info yang disebarkan semakin ramai dengan “penambahan”atau “pengurangan” kalimat beritanya.
            Lalu bagaimana caranya agar tulisan atau laporan kita terhindar dari hoaks ?
            Kata kunci agar penulisan atau laporan kita terhindar dari hoaks, adalah: SESUAI DENGAN FAKTA.
            Apapun tulisan dan laporan yang kita buat, harus sesuai dengan fakta yang ada. Jangan ditambah atau dikurangi sediktpun. Apalagi jika tulisan atau laporan kita ditambah dengan opini si penulis. Opini adalah pandangan atau pendapat pribadi dari penulis. Jika sebuah laporan atau berita tentang segala sesuatu, ditambah dengan opini penulis, maka yang muncul adalah berita tersebut tidak lagi sesuai dengan fakta, sehingga bisa mnejadi samar atau bias.
            Lalu bagaimana caranya agar tulisan atau laporan kita sesuai dengan fakta. Kita perlu melakukan sebuah pengamatan atau observasi di lapangan (lihat tulisan sebelumnya di benynulis.blogspot.com judul: “Bergaya Bak Detektif”). Kata kuncinya, kita harus rajin konfirmasi, atau bahasa kerennya check and recheck.
            Jadi kalu kita mau memposting, atau menyebarkan, atau meneruskan sebuah berita atau informasi, maka kita perlu hati-hati. Kita teliti kebenarannya dan kita pastikan, apakah sesuai dengan fakta atau tidak. Bila kita ingin menuliskan opini atau pendapat kita tentang suatu peristiwa, kita wajib menuliskan bahwa yang kita laporkan itu “opini atau pendapat kita”. Ini yang membuat tulisan atau postingan kita terhindar dari hoaks.
=========== semoga bermanfaat =============

Jurnalisme Inspiratif (#1) "Pengantar"



JURNALISME INSPIRATIF (#1)

            Dalam dunia jurnalistik, ada sebuah “pemeo” lama yang berbunyi “anjing menggigit orang bukan berita. Orang menggigit anjing baru berita”. Pemeo, yang bermakna sindiran terhadap sesuatu yang menjadi buah bibir banyak orang ini, seringkali menjadi pegangan bagi para jurnalis atau wartawan untuk memberitakan sesuatu. Pemeo ini mengartikan segala peristiwa yang bermakna “negatif”, menjadi layak dan menarik untuk diberitakan. “Bad news is good news”. Peristiwa yang buruk (negatif) adalah berita yang menarik.   Sebagai contoh, peristiwa kriminal (pembunuhan, perampokan, begal, dsb.) merupakan peristiwa yang banyak dicari pembaca (bagi surat kabar, majalah, media sosial), pendengar (radio), dan pemirsa (televisi, media sosial audio video).
            Memang tak salah. Dari berbagai survei, baik, yang dilakukan perorangan maupun lembaga, berita peristiwa kriminal, banyak dilihat orang. Berbagai program berita kriminal di televisi, menghasilkan rating dan share yang tinggi. Sementara, berita-berita kriminal di surat kabar juga menjadi perhatian pembacanya. Seringkali peristiwa-peristiwa kriminal menjadi “headline” di media massa. Judul besar dan mencolok, peristiwa kriminal banyak menghiasi halaman depan surat kabar. Ini membuktikan, bahwa peristiwa kriminal, meski bagi sebagian orang atau pengamat tak layak atau “menjijikkan” untuk disiarkan, tetapi tetap menjadi “santapan” masyarakat.
            Permasalahannya adalah: Apakah saat ini berita dengan pemeo seperti di atas masih layak dan wajib di siarkan atau diterbitkan?. Apakah masih banyak masyarakat sampai saat ini yang menantikan berita-berita berkonotasi “negatif”? Apakah tidak ada peristiwa yang berkonotasi “positif” yang layak dan menarik untuk ditayangkan atau diterbitkan di media massa? Dan yang paling penting, tidak adakah masyarakat yang mau atau ingin melihat atau membaca peristiwa yang lebih positif dari sekadar peristiwa yang berkonotasi negatif?
            Jawabannya ada dua. Dari pertanyaan pertama dan kedua, jawabannya sama: MASIH. Kenapa masih? Karena peristiwa tersebut sampai kini masih banyak disiarkan, diterbitkan, atau ditayangkan di media massa dan media sosial. Lalu, dari pertanyaan ketiga dan keempat, jawabannya adalah: ADA.
            Semua jawaban di atas, kini tergantung dari bagaimana kemauan jurnalis atau masyarakat untuk mengatasinya. Untuk sebuah peristiwa yang bermakna positif, ini tergantung dari bagaimana jurnalis dan masyarakat untuk mencari dan mengemasnya secara menarik, agar dapat dan layak tayang atau terbit di media massa dan media sosial. “Good news is goog news” harus digaungkan untuk mengedepankan jurnalisme yang saya sebut dengan “Jurnalisme Inspiratif”. Apakah “Jurnalisme Inspiratif”itu? Simak tulisannya di blog saya beriktunya. Yang pasti sayang untuk dilewatkan… Dan tentu saja.. cukup inspiratif bagi pembaca…

===== semoga bermanfaat ======