13 November 2022

BIJAK BER-MEDSOS

Penggunaan media sosial di internet, beberapa dekade ini, menjadi primadona bagi masyarakat. Baik yang pasif, hanya menikmati informasi yang "bersliweran" di dunia maya, maupun yang sangat aktif memberitakan peristiwa apapun.
      Sayangnya  fitur-fitur yang disediakan di berbagai media sosial (twitter, instagram, blog, facebook) seringkali dimanfaatkan secara negatif. Kalimat-kalimat yang muncul menjadi kasar, hujatan, mengandung unsur SARA, bahkan infonya hoaks. Lalu bagaimana caranya agar tulisan atau video kita di media sosial terhindar dari unsur-unsur tersebut? Berikut beberapa tips untuk bijak ber-medsos.

Do & Don't
- Jangan tampilkan gambar sadistis.
- Jangan tampilkan gambar korban kekerasan seksual.
-  Jangan menampillkan gambar yang menunjukkan darah korban peristiwa apapun.
-  Bila terpaksa menampilkan pelaku kriminal (agar lebih faktual) usahakan wajah pelaku di"blur".
- Jangan menulis kata/kalimat sadistis.
- Jangan menulis kalimat yang menggambarkan detil kekerasan seksual.
- Hanya menuliskan inisial korban peristiwa apapun, termasuk peristiwa kekerasan seksual.
- Hanya menuliskan inisial pelaku yang belum diputuskan bersalah oleh pengadilan.
- Hati-hati dengan penulisan lokasi TKP dan nama saksi (upayakan disamarkan).
- Pertimbangkan dampak traumatis dan dampak sosial jika melakukan wawancara dengan keluarga korban kekerasan    seksual.

Bijak Ber-medsos 
- Utamakan berita yang kita sebarkan faktual dan aktual. Atau yang penting dan menarik untu masyarakat umum.
- Hindari hoaks, dengan memberikan keterangan waktu, tempat, dan siapa yang terlibat pada tulisan berita atau video yang disebarkan. Baik dengan verbal maupun grafis kalimat.
- Tulis peristiwanya secara singkat, padat, dan jelas.
- Bila ragu, jangan segan-segan untuk selalu check & recheck, sebelum upload.
- Jujur, baik secara pribadi, maupun kepada masyarakat, atas karyanya.
- Bila penyebaran informasi berupa video, usahakan visual jelas (tdk blur, kecuali yang memang harus diblur). Visual harus detil.
- Sebelum meng-upload  tulisan atau video ke media sosial, pikirkan dampak yang akan terjadi (positif atau negatif).
- Bila ingin membagikan (share) tulisan atau video, pastikan informasi tersebut sudah terverifikasi atau terkonfirmasi kebenarannya.

5 November 2022

PROGRAM FEATURE (#3)Feature Kuliner

Sebelum kita jauh dalam membahas program feature kuliner,  kita perlu tahu arti "kuliner" itu sendiri. Kuliner berasal dari bahasa Inggris “culinary”, yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan dapur atau masakan, baik berupa  lauk-pauk, makanan, termasuk camilan, dan minuman.
     Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dikutip dari (KBBI: kbbi. web.id), kuliner adalah sesuatu hal yang berhubungan dengan masakan. Kuliner juga mempunyai arti sebagai suatu olahan berupa masakan, minuman, atau lauk pauk.
     Kata kuliner, marak akhir-akhir ini, terutama setelah media massa banyak memperkenalkan dan menyebutnya. Biasanya kata kuliner disandingkan dengan kata wisata. Sehingga wisata kuliner sering diartikan sebagai jalan-jalan atau berpergian ke suatu tempat untuk mencicipi makanan, camilan, atau minuman daerah setempat. 
     Dalam sebuah program feature kuliner TV, yang ditampilkan adalah segala bentuk produksi (baik berupa narasi maupun visual) tentang kuliner. Hal  yang utama dalam penyampaian informasi tentang program kuliner adalah "nama" makanan itu sendiri. Nama yang unik, aneh, berbau asing, jarang diketahui masyakat, atau yang sedang trend, menjadi daya tarik pemirsa. Setelah nama, yang paling menonjol adalah "visual". Ukuran visual full frame dari makanan yang disajikan, detil shot bahan-bahan olahannya (apalagi bahan yang jarang ditemukan dan digunakan masyarakat) menjadi daya tarik pemirsa.
     Visual yang lain adalah cara pengolahannya. Walaupun tidak detil (karena keterbatasan durasi), biasanya cara pembuatan atau pengolahan makanan, adalah visual yang ingin diketahui pemirsa. Jika kuliner ini berkaitan dengan tempat wisata, maka perlu visual suasana lokasi. Sedangkan informasi daerah tempat kuliner tersebut, bumbu-bumbunya, dapat ditampilkan dalam bentuk grafis.
     Tidak seperti program feature kuliner di awal-awal stasiun TV swasta berdiri, yang ditandai atau diproduksi dalam bentuk visual dan narasi saja, kini program tersebut berkembang dengan berbagai variasi. Terkini adalah dengan kehadiran reporter, baik reporter dari TV sendiri, artis, maupun publik figur. Kehadiran mereka menambah daya tarik program (lihat tulisan  "Program Feature #2, benynulis.blogspot.com).
     Kehadiran reporter di program ini, membuat tak perlu banyak menampilkan narasi dalam proses produksinya. Reporter dapat menginformasikan dalam bentuk tutur, cara pembuatannya, mencicipinya, serta memberikan informasi yang subyektif (mis: bagi reporter masakan ini terlalu pedas, bagi reporter masakan ini terlalu manis; kita tidak tahu mungkin bagi pemirsa bisa jadi ini kurang pedas atau tidak begitu manis). Reporter juga akan lebih atraktif, ketika berinteraksi dengan si pembuat makanan, ketika memperagakan cara pembutan atau pengolahannya.
     Tentu saja kehadiran reporter dalam program feature TV, sepanjang penampilan dan penyampaiannya menarik, menjadi nilai lebih sebuah program. Tujuan akhirnya, program ini menghasilkan rating yang diharapkan.

1 November 2022

PROGRAM FEATURE (#2) Keberadaan Presenter dan Reporter

Bagi sebuah program feature TV, kehadiran "presenter" atau "reporter" sangat penting artinya. Mereka dapat membawakan, mengenalkan, mempresentasikan, sebuah tempat, kuliner, atau budaya, dengan narasi yang menarik. Kata-kata dengan kalimat "tutur" yang ringan dan mudah dicerna, akan menarik bagi pemirsa. Presenter, harus dapat menggambarkan apa yang dilihatnya di lapangan, apa yang dirasakanya, atau menceritakan yang dialaminya, dengan narasi singkat dan jelas.
     Sebelum lebih jauh kita membahasnya, kita perlu mengetahui apa itu presenter atau reporter feature TV. Presenter merupakan kata dari bahasa Inggris "to present" yang artinya mempresentasikan, menyajikan atau menghadirkan. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak ditemukan kata presenter. Namun ada kata yang berdekatan artinya dengan presenter yaitu "pranatacara". Dalam KBBI online yang dikutip dari "https://kbbi.web.id/pranatacara.html" pranatacara diartikan sebagai: pembawa acara atau pewara.
     Sementara itu arti kata repoter yang dikutip dari (https://kbbi.web.id/reporter.html) penyusun laporan atau wartawan. Biasanya untuk kehadiran pembawa acara di lapangan, banyak orang menyebutnya dengan reporter. Sedangkan presenter, diposisikan sebagai pembawa acara bereta di studio TV. 
     Di beberapa stasiun televisi, presenter atau reporter untuk membawakan acara program feature ada yang menyebutnya sebagai "host". Namun, penulis lebih memilih menggunakan "host" sebagai pembawa acara program "talk show". Host berasal dari bahasa Inggris, yang artinya tuan rumah. Sebagai "tuan rumah" sebuah acara TV, tentunya ada "bintang tamu",  teman perbincangan. Host inilah yang memandu acara dan menjaga alur perbincangan sepanjang durasi program berlangsung.
      Keberadaan dan kehadiran presenter atau reporter, diperlukan agar program feature tidak terkesan membosankan. Jika hanya melihat visual dan mendengarkan narasi saja, tidak akan semenarik jika ada kehadiran orang yang menyajikannya. Apalagi jika orang itu ikut terlibat langsung dalam sebuah kegiatan, yang jarang dilakukan sehari-hari.
     Biasanya, program feature TV yang menghadirkan presenter atau reporter, minim dengan narasi, bahkan ada yang penyajiannya tanpa narasi, jika presenter atau reporternya atraktif. Dengan bahasa tutur yang kuat, partisipatif dengan warga sekitarnya, serta visual yang menarik dan bercerita, maka narasi tak lagi diperlukan. Untuk memperkuat visual dan cerita, maka disertakan grafis-grafis dengan tulisan yang jelas, disertai gambar yang menarik. Tentunya sepanjang tampilan grafis tidak mengganggu visual. Narasi ditambahkan jika dalam proses pascaproduksinya ditemukan informasi yang tidak disampaikan reporter atau tidak dapat diceritakan oleh visual. 
     Hal terpenting, jika perlu penambahan narasi adalah: pengisian suara atau dubbing. Dubbing sedapat mungkin harus menggunakan suara asli reporter atau presenter yg terlibat dalam produksi feature tersebut. Jika tidak, sebauknya diisi dengan suara yang mirip atau serupa.
     Dalam program feature, stasiun TV dengan pemodal kuat, dapat menghadirkan presenter atau reporter berasal dari kalangan artis atau publik figur. Kehadiran mereka bertujuan agar orogram feature stasiun TV-nya banyak diminati orang. Memang ongkos produksinya akan semakin mahal. Namun dengan asumsi banyak ditonton masyarakat, yang berimbas pada banyaknya pengiklan, maka pendapatannya juga akan besar. 
     Tinggal bagaimana persaingan program-program feature TV ini berjalan. Unsur menarik, kebaruan, unik, dan kehadiran reporter atau presenter yang terkenal, luwes, eye catching, akan menjadi modal yang beharga dalam memenangkan persaingan ini.