Kisah Pisang Bakar Gratis
Selama puluhan tahun menjalani tugas jurnalistik, banyak sudah kisah yang terjadi mengiringi perjalanan tersebut. Gembira, sedih, tertawa, meneteskan air mata, memperkaya kisah perjalanan tersebut. Selain kisah yang terjadi dalam proses pencarian materi-materi jurnalistik, banyak juga kisah yang terjadi di balik perjalanan tugas sebagai jurnalis. Kisah-kisah ini, mungkin tak begitu penting bagi orang lain. Namun, bagaimanapun juga, kisah-kisah di balik tugas ini, memperkaya perjalanan hidupku sebagai jurnalis. Kadangkala, kisah ini sulit dicerna dengan akal sehat. Banyak hal-hal lain yang ikut campur tangan pada proses terjadinya kisah-kisah ini. "Campur tangan" itu bagiku terjadi karena adanya hak-hak Allah SWT, yang aku percaya akan selalu terjadi dalam setiap perjalanan manusia di muka bumi ini. Mungkin juga ada pandangan yang mengatakan "ah... itu khan karena kebetulan saja..". Apapun juga, bagiku ini terjadi karena sebuah kehendak. Kehendak yang tak hanya terjadi karena sebuah settingan manusia, tetapi karena settingan Sang Pemilik Alam.
1. Kisah Pisang Bakar
Kisah ini terjadi beberapa tahun lalu, ketika aku bertugas dalam sebuah tim liputan untuk pemberitaan stasiun televisi. Saat itu, aku, sebagai reporter sekaligus pimpinan tim liputan, bersama kameraman, didampingi seorang driver, malakukan tugas jurnalistik ke berbagai daerah untuk membuat program tentang keberadaan pesantren tradisional di Pulau Jawa. Suatu saat, dalam perjalanan tersebut, kami meliput tentang kehidupan pengasuh dan stri di sebuah pesantren di Tegal Jawa Tengah.
Sore itu, kami sedang dalam perjalanan dari sebuah hotel menuju pesantren di sebuah kawasan di Tegal, Jateng. Kami melewati kawasan pantai yang di pinggirnya banyak penjual makanan. beberapa di antaranya adalah pedagang pisang bakar. Aroma panggangannya meresap dalam hirupan nafas kami. Muncullah sebuah ide, untuk mampir dan membelinya, barang bebebrapa buah. Namun, kami memutuskan untuk menundanya, karena kami garus langsung menuju pesantren. Akhirnya kami langsung menuju ke pesantren tersebut. Tak lam kamipun sampai. Setelah bersilaturahmi, dan membuka obrolah dengan kyai pengasuh pesantren, kami memutusakan untuk langsung mengambil gambar dan prioses perekaman wawancara.
Namun, ketika kami mempersiapkan peralatan kamera untuk proses perekaman, sang kyai menahan kaim dan mempersilakan kami duduk kembali di sebuah saung lesehan tempat kyai menemui kami. Sang kyai kemudian memanggil seseorang dan memintanya membawa makanan untuk kami semua. "Makan dulu mas, cuman cemilan dulu," ujar Kyai. Tak lama kemudian, datanglah dua orang, yang sepertinya santri di ponpes tersebut, membawa beberapa piring cemilan dan gelas minuman. Ketika terhidang, aku dan tim liputan sedikit terhenyak, karena yang terpampang di atas tikar, adalah beberapa piring berisi pisang bakar. Pisang bakar itu terlihat masih panas dengan asap yang masih mengepul. Kami saling bertatapan mata dan tersenyum, karena apa yang kami rencanakan, ternyata sudah terhidang di depan mata.
Berapa jam setelah proses peliputan, usai sudah tugas jurnalistik kami. Setelah ngobrol, disertai dengan makan minum santai dengan kyai dan beberapa pengurus ponpes, kamipun pamit hendak kembali ke hotel. Dalam perjalanan, aku dan tim terlibat dalam obrolan ringan yang seru. Topiknya tentu saja hidangan "pisang bakar" hangat yang rencananya akan kita beli usai peliputan, yang ternyata sudah bisa kita nikmati sebelum kita bekerja dalam peliputan.Yang membahagiakan, pisang bakar itu gratis dan InsyaAllah berkah, karena yang menghidangkan adalah seorang kyai dan dimakan di sebuah ponpes dengan suasana yang berbeda jika dimakan di pinggir pantai........
16 November 2017
4 Juli 2017
Bergaya Bak Detektif
Mencoba Gaya Detektif
Detektif. Pasti orang tahu profesi detektif. Orang dengan profesi seperti ini, seringkali dipandang sebagai orang dengan keingintahuan yang besar. Banyak nanya, memandang dan melihat sekitar dengan mata nanar bahkan seperti curiga. Apa yang mereka lakukan adalah "mengamati" apa yang menjadi tugasnya ketika menyelidiki sebuah kasus.
Lalu, apa hubungannya dengan dunia tulis menulis?
Kali ini saya mencoba untuk membahas tentang "observasi". Kata lainnya adalah pengamatan. Observasi adalah salah satu metode atau cara untuk mencari ide dan menghasilkan sebuah tulisan.
Dalam sebuah perjalanan, di sebuah tempat, atau sedang melakukan aktifitas apapun, kita bisa mendapatkan sebuah ide penulisan dengan mengamati apa yang ada dan terjadi di sekitarnya. Apapun bentuknya, besar atau kecil, bisa menjadi sebuah ide penulisan.
Pada tulisan kali ini, saya akan membahas bagaimana sebuah observasi (pengamatan) dilakukan tanpa melakukan wawancara. (observasi dengan teknik wawancara akan diulas dalam tulisan berikutnya)
Untuk melakukan observasi, kita bisa bergaya seperti detektif.
Seperti telah disebutkan di atas, kita bisa melakukan pengamatan tentang segala hal yang terjadi di lingkungan kita. Apa saja yang perlu dilakukan dalam sebuah observasi?. Kita bisa melakukannya dengan rumus yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya di Blog Benynulis (Omahku) sebelumnya, yakni 5W+1H.
Mari kita coba jabarkan satu persatu.
What
Kita bisa mengamati apa yang ada di sekitar kita. Contohnya: jika kita berada di lokasi wisata, apa saja yang ada di sekitarnya, adakah air terjun?, hutan? alamnya? atau wisata buatan? Pokoknya, apa yang ada dalam pengamatan kita, bisa kita tulis.
Who
Kita bisa mengamati siapa saja yang ada di sekitar lokasi wisata tersebut. Siapa pengelolanya? sapa saya wisatawan yang berkunjung? Siapa saja yang terlibat dan ada di lingkungan sekitar lokasi wisata, bisa menjadi bahan tulisan
Where
Di mana lokasi wisata tersebut berada? (kota, daerah pegunungan, hutan, atau pantai)
When
Untuk rumus ini, bisa merujuk tentang sejarah/ masa lalu dan masa kini. Kapan lokasi wisata itu didirikan atau ditemukan? kapan lokasi itu mulai dibuka untuk umum dan ramai? kapan saja lokasi itu ramai dikunjungi wisatawan? dsb.
Why
Mengapa lokasi tersebut bisa menjadi ramai/ sepi? mengapa wisatawan suka atau tidak untuk datang ke lokasi tsb? Atau, mengapa lokasi tersebut belum bisa dikembangkan sebagai lokasi wisata yang menarik?
How
Bagaimana adalah rumus pengamatan yang paling banyak untuk bisa dikembangkan. ini adalah metode pengamatan/ observasi yang paling mendalam untuk dilakukan. Bagaimana Lokasi itu bisa berkembang? bagaimana lokasi itu masih terjaga kelestariannya? bagaimana orang bisa datang menuju ke lokasi tsb? bagaimana warga desa sekitarnya bisa mendapatkan manfaat dari lokasi iwsata tsb? dan masih banyak "bagaimana-bagaimana" lainnya yang bisa dikembangkan dalam pengamatan ini.
Mungkin tidak terasa mudah untuk melakukan pengamatan seperti di atas. Namun, kita bisa mulai mencobanya dengan melakukan observasi ringan tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Jika kita berada di dalam bus kota misalnya, kita bisa melakukan pengamatan dengan metode 5W+1H tentang apa saja yang ada di dalam busa kota atau apa saja yang ada di luar. Ketika kita berada di halte, stasiun kereta api, warung makan, atau di trotoar, bisa menjadi "ladang" yang menarik untuk melakukan pengamatan.
Yang pasti jika kita melakukan pengamatan, jangan lupa kita mencatatnya dalam buku catatan kecil atau merekamnya dalam bentuk audio. Ini harus kita lakukan, karena otak kita terbatas untuk menyimpan hasil pengamatan yang kita lakukan.
Satu lagi, jangan terlalu lama menyimpan catatan-catatan hasil pengamatan kita. Kita harus segera menuangkannya dalam bentuk tulisan. Kadangkala, kita bisa menambahkan tulisan dari hasil pengamatan yang mungkin terlupakan dalam catatan kecil kita, tapi masih sedikit terekam di otak kita. Jika masih hangat terekam di otak, tentunya akan lebih mudah kita tuangkan dalam tulisan.
Selamat mencoba....
Detektif. Pasti orang tahu profesi detektif. Orang dengan profesi seperti ini, seringkali dipandang sebagai orang dengan keingintahuan yang besar. Banyak nanya, memandang dan melihat sekitar dengan mata nanar bahkan seperti curiga. Apa yang mereka lakukan adalah "mengamati" apa yang menjadi tugasnya ketika menyelidiki sebuah kasus.
Lalu, apa hubungannya dengan dunia tulis menulis?
Kali ini saya mencoba untuk membahas tentang "observasi". Kata lainnya adalah pengamatan. Observasi adalah salah satu metode atau cara untuk mencari ide dan menghasilkan sebuah tulisan.
Dalam sebuah perjalanan, di sebuah tempat, atau sedang melakukan aktifitas apapun, kita bisa mendapatkan sebuah ide penulisan dengan mengamati apa yang ada dan terjadi di sekitarnya. Apapun bentuknya, besar atau kecil, bisa menjadi sebuah ide penulisan.
Pada tulisan kali ini, saya akan membahas bagaimana sebuah observasi (pengamatan) dilakukan tanpa melakukan wawancara. (observasi dengan teknik wawancara akan diulas dalam tulisan berikutnya)
Untuk melakukan observasi, kita bisa bergaya seperti detektif.
Seperti telah disebutkan di atas, kita bisa melakukan pengamatan tentang segala hal yang terjadi di lingkungan kita. Apa saja yang perlu dilakukan dalam sebuah observasi?. Kita bisa melakukannya dengan rumus yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya di Blog Benynulis (Omahku) sebelumnya, yakni 5W+1H.
Mari kita coba jabarkan satu persatu.
What
Kita bisa mengamati apa yang ada di sekitar kita. Contohnya: jika kita berada di lokasi wisata, apa saja yang ada di sekitarnya, adakah air terjun?, hutan? alamnya? atau wisata buatan? Pokoknya, apa yang ada dalam pengamatan kita, bisa kita tulis.
Who
Kita bisa mengamati siapa saja yang ada di sekitar lokasi wisata tersebut. Siapa pengelolanya? sapa saya wisatawan yang berkunjung? Siapa saja yang terlibat dan ada di lingkungan sekitar lokasi wisata, bisa menjadi bahan tulisan
Where
Di mana lokasi wisata tersebut berada? (kota, daerah pegunungan, hutan, atau pantai)
When
Untuk rumus ini, bisa merujuk tentang sejarah/ masa lalu dan masa kini. Kapan lokasi wisata itu didirikan atau ditemukan? kapan lokasi itu mulai dibuka untuk umum dan ramai? kapan saja lokasi itu ramai dikunjungi wisatawan? dsb.
Why
Mengapa lokasi tersebut bisa menjadi ramai/ sepi? mengapa wisatawan suka atau tidak untuk datang ke lokasi tsb? Atau, mengapa lokasi tersebut belum bisa dikembangkan sebagai lokasi wisata yang menarik?
How
Bagaimana adalah rumus pengamatan yang paling banyak untuk bisa dikembangkan. ini adalah metode pengamatan/ observasi yang paling mendalam untuk dilakukan. Bagaimana Lokasi itu bisa berkembang? bagaimana lokasi itu masih terjaga kelestariannya? bagaimana orang bisa datang menuju ke lokasi tsb? bagaimana warga desa sekitarnya bisa mendapatkan manfaat dari lokasi iwsata tsb? dan masih banyak "bagaimana-bagaimana" lainnya yang bisa dikembangkan dalam pengamatan ini.
Mungkin tidak terasa mudah untuk melakukan pengamatan seperti di atas. Namun, kita bisa mulai mencobanya dengan melakukan observasi ringan tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Jika kita berada di dalam bus kota misalnya, kita bisa melakukan pengamatan dengan metode 5W+1H tentang apa saja yang ada di dalam busa kota atau apa saja yang ada di luar. Ketika kita berada di halte, stasiun kereta api, warung makan, atau di trotoar, bisa menjadi "ladang" yang menarik untuk melakukan pengamatan.
Yang pasti jika kita melakukan pengamatan, jangan lupa kita mencatatnya dalam buku catatan kecil atau merekamnya dalam bentuk audio. Ini harus kita lakukan, karena otak kita terbatas untuk menyimpan hasil pengamatan yang kita lakukan.
Satu lagi, jangan terlalu lama menyimpan catatan-catatan hasil pengamatan kita. Kita harus segera menuangkannya dalam bentuk tulisan. Kadangkala, kita bisa menambahkan tulisan dari hasil pengamatan yang mungkin terlupakan dalam catatan kecil kita, tapi masih sedikit terekam di otak kita. Jika masih hangat terekam di otak, tentunya akan lebih mudah kita tuangkan dalam tulisan.
Selamat mencoba....