Mencoba Gaya Detektif
Detektif. Pasti orang tahu profesi detektif. Orang dengan profesi seperti ini, seringkali dipandang sebagai orang dengan keingintahuan yang besar. Banyak nanya, memandang dan melihat sekitar dengan mata nanar bahkan seperti curiga. Apa yang mereka lakukan adalah "mengamati" apa yang menjadi tugasnya ketika menyelidiki sebuah kasus.
Lalu, apa hubungannya dengan dunia tulis menulis?
Kali ini saya mencoba untuk membahas tentang "observasi". Kata lainnya adalah pengamatan. Observasi adalah salah satu metode atau cara untuk mencari ide dan menghasilkan sebuah tulisan.
Dalam sebuah perjalanan, di sebuah tempat, atau sedang melakukan aktifitas apapun, kita bisa mendapatkan sebuah ide penulisan dengan mengamati apa yang ada dan terjadi di sekitarnya. Apapun bentuknya, besar atau kecil, bisa menjadi sebuah ide penulisan.
Pada tulisan kali ini, saya akan membahas bagaimana sebuah observasi (pengamatan) dilakukan tanpa melakukan wawancara. (observasi dengan teknik wawancara akan diulas dalam tulisan berikutnya)
Untuk melakukan observasi, kita bisa bergaya seperti detektif.
Seperti telah disebutkan di atas, kita bisa melakukan pengamatan tentang segala hal yang terjadi di lingkungan kita. Apa saja yang perlu dilakukan dalam sebuah observasi?. Kita bisa melakukannya dengan rumus yang telah dibahas dalam tulisan sebelumnya di Blog Benynulis (Omahku) sebelumnya, yakni 5W+1H.
Mari kita coba jabarkan satu persatu.
What
Kita bisa mengamati apa yang ada di sekitar kita. Contohnya: jika kita berada di lokasi wisata, apa saja yang ada di sekitarnya, adakah air terjun?, hutan? alamnya? atau wisata buatan? Pokoknya, apa yang ada dalam pengamatan kita, bisa kita tulis.
Who
Kita bisa mengamati siapa saja yang ada di sekitar lokasi wisata tersebut. Siapa pengelolanya? sapa saya wisatawan yang berkunjung? Siapa saja yang terlibat dan ada di lingkungan sekitar lokasi wisata, bisa menjadi bahan tulisan
Where
Di mana lokasi wisata tersebut berada? (kota, daerah pegunungan, hutan, atau pantai)
When
Untuk rumus ini, bisa merujuk tentang sejarah/ masa lalu dan masa kini. Kapan lokasi wisata itu didirikan atau ditemukan? kapan lokasi itu mulai dibuka untuk umum dan ramai? kapan saja lokasi itu ramai dikunjungi wisatawan? dsb.
Why
Mengapa lokasi tersebut bisa menjadi ramai/ sepi? mengapa wisatawan suka atau tidak untuk datang ke lokasi tsb? Atau, mengapa lokasi tersebut belum bisa dikembangkan sebagai lokasi wisata yang menarik?
How
Bagaimana adalah rumus pengamatan yang paling banyak untuk bisa dikembangkan. ini adalah metode pengamatan/ observasi yang paling mendalam untuk dilakukan. Bagaimana Lokasi itu bisa berkembang? bagaimana lokasi itu masih terjaga kelestariannya? bagaimana orang bisa datang menuju ke lokasi tsb? bagaimana warga desa sekitarnya bisa mendapatkan manfaat dari lokasi iwsata tsb? dan masih banyak "bagaimana-bagaimana" lainnya yang bisa dikembangkan dalam pengamatan ini.
Mungkin tidak terasa mudah untuk melakukan pengamatan seperti di atas. Namun, kita bisa mulai mencobanya dengan melakukan observasi ringan tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Jika kita berada di dalam bus kota misalnya, kita bisa melakukan pengamatan dengan metode 5W+1H tentang apa saja yang ada di dalam busa kota atau apa saja yang ada di luar. Ketika kita berada di halte, stasiun kereta api, warung makan, atau di trotoar, bisa menjadi "ladang" yang menarik untuk melakukan pengamatan.
Yang pasti jika kita melakukan pengamatan, jangan lupa kita mencatatnya dalam buku catatan kecil atau merekamnya dalam bentuk audio. Ini harus kita lakukan, karena otak kita terbatas untuk menyimpan hasil pengamatan yang kita lakukan.
Satu lagi, jangan terlalu lama menyimpan catatan-catatan hasil pengamatan kita. Kita harus segera menuangkannya dalam bentuk tulisan. Kadangkala, kita bisa menambahkan tulisan dari hasil pengamatan yang mungkin terlupakan dalam catatan kecil kita, tapi masih sedikit terekam di otak kita. Jika masih hangat terekam di otak, tentunya akan lebih mudah kita tuangkan dalam tulisan.
Selamat mencoba....